Reformasi Polisi, Harapan Sahetapy yang Berbalik
Pemisahan polisi dari ABRI diharapkan membawa profesionalisme. Tiga dekade kemudian, kritik muncul: harapan itu justru tergelincir.
Pada 1993, Prof. Jacob Sahetapy mengusulkan agar kepolisian dipisahkan dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Langkah itu dianggap monumental:
Polisi diharapkan menjadi institusi sipil yang lebih dekat dengan masyarakat, bebas dari kultur militer, dan berorientasi pada pelayanan hukum. Namun, refleksi Sahetapy kini terdengar getir: “Sekarang justru lebih brengsek.”
Kutipan tersebut menyingkap paradoks reformasi kelembagaan. Pemisahan polisi dari ABRI memang membuka jalan bagi demokratisasi, tetapi tidak otomatis menghasilkan institusi yang bersih.
Publik masih menyaksikan praktik kekerasan, korupsi, dan lemahnya penegakan hukum. Harapan akan polisi sipil yang humanis kerap berbenturan dengan realitas birokrasi dan politik.
Kritik Sahetapy menegaskan bahwa reformasi bukan sekadar perubahan struktur, melainkan transformasi budaya dan etos kerja.
Tanpa pengawasan publik yang kuat dan kepemimpinan yang konsisten, pemisahan institusi bisa kehilangan makna. “Lebih brengsek” mencerminkan kekecewaan atas jarak antara ideal dan kenyataan.









Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!