Risiko Mengerikan, Ketika Dana Desa Tersedot untuk Bayar Cicilan

Ketika sebuah koperasi desa mengambil pinjaman miliaran rupiah, risiko yang dihadapi bukan sekadar angka di atas kertas. Ia menjelma menjadi beban harian yang harus ditanggung oleh pengurus, anggota, bahkan ruang fiskal desa.

Hitungan Kasar, Beban Nyata

Pinjaman Rp3 miliar dengan bunga 4% per tahun berarti cicilan Rp50 juta per bulan. Untuk menutupnya, koperasi harus mencetak omzet Rp1 miliar per bulan dengan margin bersih 5%. Jika margin realistis hanya 3%, omzet harus melonjak ke Rp1,67 miliar per bulan. Artinya, koperasi desa dituntut memutar uang sekitar Rp33 juta per hari—angka yang jauh dari kebiasaan ekonomi desa.

Skenario Macet

  • Macet Ringan: Laba Rp35 juta per bulan, defisit Rp15 juta. Restrukturisasi hampir pasti.
  • Macet Sedang: Laba Rp25 juta per bulan, defisit Rp25 juta. Cashflow tertekan, kepercayaan anggota mulai retak.
  • Gagal Total: Tidak ada laba, lubang Rp600 juta per tahun. Kredit bermasalah, bunga tetap berjalan.

Dampak ke Desa

Risiko gagal bayar tidak berhenti di koperasi. Jika dana desa ikut menopang, pembangunan jalan bisa berhenti, saluran air tertunda, program pemberdayaan terpangkas. Infrastruktur kecil desa terancam macet. Dalam ekonomi publik, ini disebut crowding out: anggaran pembangunan tersedot untuk menambal risiko usaha.

Suara dari Lapangan

Ketua koperasi yang berlatar belakang UMKM menyebut dirinya “pengusaha Usaha Mikir Keluarga Megap Megap.” Ungkapan satir ini mencerminkan realitas: pengurus koperasi desa sering kali bukan pebisnis dengan pengalaman omzet miliaran per bulan. Mereka rakyat biasa yang ditunjuk untuk mengelola dana besar, dengan risiko yang bisa menggerus kepercayaan komunitas.

Koperasi desa bukan sekadar warung kelontong. Ia adalah entitas ekonomi yang menanggung risiko sistemik. Ketika pinjaman besar masuk tanpa perhitungan matang, desa bisa terseret dalam lingkaran utang. Suara dari Sidokarto ini adalah peringatan: jangan abaikan hitungan sederhana rakyat kecil. Karena dari angka-angka itulah, risiko mengerikan mulai terlihat.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *