Hidup itu Tidak Adil
Hidup, sebagaimana telah disadari oleh banyak generasi, jarang sekali berjalan sesuai dengan rasa keadilan kita. Dari lotere kelahiran hingga ketidakpastian keadaan, ketidaksetaraan sudah menjadi bagian dari kehidupan. Ada yang lahir dalam privilese, ada yang dalam kesulitan; ada yang bertemu peluang, ada yang menghadapi rintangan. Gagasan bahwa kerja keras selalu menjamin hasil memang menenangkan, tetapi kenyataannya tidak selalu demikian.
Ambil contoh pendidikan dan pekerjaan. Seorang siswa rajin bisa saja mendapati pintu tertutup hanya karena faktor geografis atau latar belakang keluarga, sementara orang lain yang kurang tekun mendapat keuntungan dari koneksi atau warisan. Dalam olahraga, bakat bisa terkalahkan oleh cedera; dalam politik, kemampuan bisa tertutup oleh karisma. Ketidakadilan ini bukan karena niat jahat, melainkan karena struktur. Sistem, tradisi, dan kebetulan berpadu menghasilkan hasil yang terasa tidak adil.
Namun, menyadari bahwa hidup itu tidak adil bukan berarti kita harus putus asa. Justru, ini adalah panggilan untuk ketangguhan. Jika dunia tidak menjamin keadilan, maka individu dan masyarakat harus berusaha menciptakannya. Gerakan hak sipil, kesetaraan gender, dan keadilan iklim semuanya lahir dari pengakuan bahwa ketidakseimbangan ada, dan bahwa manusia bisa berperan untuk menguranginya. Keadilan mungkin bukan sesuatu yang alami, tetapi bisa diperjuangkan.
Pada tingkat pribadi, pelajaran ini memang pahit, tetapi juga membebaskan. Menerima bahwa kegagalan tidak selalu akibat kesalahan diri membuat kita bisa fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan: usaha, sikap, dan empati. Harapan pun menjadi lebih realistis. Kesuksesan mungkin tidak datang sebanding dengan kerja keras, tetapi martabat bisa ditemukan dalam ketekunan.
Ketidakadilan hidup, dengan demikian, adalah kenyataan sekaligus tantangan. Ia mengingatkan kita bahwa meski lapangan permainan tidak rata, respons kita terhadapnya lah yang mendefinisikan siapa kita. Dengan menghadapi ketidakadilan, baik yang global maupun yang intim, kita membentuk makna dari dunia yang tidak pernah menjanjikannya.

Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!